Pengelolaan kekerasan terhadap siswa

Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah (bullying) adalah suatu situasi dimana seorang siswa atau lebih secara terus menerus melakukan tindakan yang menyebabkan siswa lain menderita. Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini dapat berbentuk tiga hal yaitu:

1. Secara fisik, memukul, menendang, mengambil milik orang lain

2. Secara verbal: mengolok-olok nama siswa lain, menghina, mengucapkan kata-kata

yang menyinggung.

3. Secara tidak langsung: menyebarkan cerita bohong, mengucilkan, menjadikan siswa

tertentu sebagai target humor yang menyakitkan, mengirim pesan pendek atau surat

yang keji. Mengolok-olok nama merupakan hal yang paling umum karena ciri-ciri

fisik siswa, suku, warna kulit, dan lain-lain.

Agar kekerasan terhadap siswa ini tidak terjadi maka perlu dibuat aturan sekolah untuk melindungi siswa korban kekerasan. Tindakan pencegahan dan strategi mengelola kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini juga perlu dibuat untuk melindungi korban agar tindakan kekerasan tidak berlangsusng terus-menerus.

Sealin itu sekolah harus terbuka mengenai isu kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini. Semakin sekolah terbuka mengenai isu kekerasan ini, semakin siap sekolah tersebut menangani kekerasan dan semakin baik mengelolanya. Sekolah harus mempunyai catatan yang akurat tentang kejadian kekerasan yang terjadi di sekolah dan bagaimana cara menanganinya untuk keperluan monitoring dan untuk melindungi sekolah dari tuntutan hukum.

Sekolah sebaiknya mempunyai strategi anti kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah yang dapat berbentuk 4 cara:

1. Pencegahan

Pencegahan preventif diintegrasikan dalam semua kurikulum mata pelajaran, termasuk hubungan, tanggung jawab, dan akibat negatif dari kekerasan. Dengan demikian mata pelajaran dapat menyangkut aspek keterampilan sosial dan emosional yang sangat penting.

2. Dukungan antar teman

Memberikan dukungan yang aktif kepada teman sangatlah penting. Program pertemanan ini dapat dipersiapkan oleh sekolah secara formal ataupun informal agar siswa-siswa dapat saling mendukung secara akatif.

3. Prosedur yang jelas

Prosedur untuk menyampaikan keluhan tindakan kekerasan antar teman harus tersedia, misalnya kepada unit bimbingan dan konseling, atau konseling antar teman. Demikian pula prosedur untuk mnecatat dan memonitor kekerasan harus jelas.

4. Promosi

Promosi tentang anti kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah dan strateginya diberikan kepada seluruh warga sekolah: siswa, orang tua, komite sekolah, masyarakat. Bentuknya dapat berupa leaflet, poster, laporan berkala dan bentuk penerbitan lain yang berisi kebijakan anti kekerasan sekolah yang sangat membantu menyampaikan informasi ini.

Alternatif Hukuman Positif/Non-Fisik

Siswa memang perlu belajar untuk disiplin terutama disiplin diri. Akan tetapi untuk mengajarkan disiplin tersebut bukan dengan cara memberikan hukuman fisik dan hukuman merendahkan karena hukuman ini terbukti tidak efektif untuk menegakkan disiplin. Sebaiknya guru memberitahu dan menjelaskan kepada siswa kesalahan apa yang telah mereka lakukan bukan dengan cara memberi hukuman fisik atau hukuman merendahkan.

Guru-guru perlu diberi keterampilan untuk menggunakan metode pendisiplinan yang tidak berupa hukuman fisik atau hukuman yang merendahkan anak. Berikut ini adalah beberapa petunjuk dan hal-hal yang dapat dilakukan oleh Kepala sekolah/guru dalam hal hukuman positif/non-fisik.

  1. Beri penghargaan/pujian bila siswa patuh atau dapat melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini akan memotivasi siswa lain untuk mengikuti pprilaku tersebut and memotivasi mereka untuk berdisiplin diri. Pujian ini tidak perlu modal apapun, bahkan penghargaan tidak harus menghabiskan uang bayak. Penghargaan ini dapat berupa pemberian kegiatan yang menyenangkan siswa.
  2. Berilah model/contoh prilaku yang diinginkan. Bila kita tidak ingin siswa kita berbicara bahasa yang tidak baik, maka kitapun tidak boleh berbicara yang tidak baik.
  3. Realistiklah terhadap harapan kita pada siswa-siswa menurut tingkatan usianya.
  4. Motivasilah siswa-siswa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, karena mereka seringkali dapat menemukan kompromi yang dapat diterima kedua belah pihak.
  5. Jangan gunakan ancaman atau berteriak kepada siswa. Lebih baik mereka diberitahu kesalahannya dan alasannya daripada ditakuti-takuti atau dilecehkan
  6. Gunakanlah kata-kata yang baik untuk siswa-siswa anda. Bila anda menggunakan kata yang melecehkan atau menghina ini akan menjadikan siswa tersebut rendah diri.
  7. Negosiasi dan berkompromilah, terutama bila anda harus menemukakan pendapat anda. Kajilah apa yang akan anda katakan itu penting atau tidak? Apakah hal yang akan anda katakan ini mempengaruhi keselamatan siswa? Apakah ada yang terluka dengan apa yang akan saya katakan?
  8. Gunakan metode bimbingan dan penyuluhan terutama dengan siswa kelas tinggi. Bila diperlukan undanglah orangtua/keluarga yang dihormatinya. Diskusikan dengan orangtua/keluarga prilaku negatif siswa dan prilaku yang diharapkan dari siswa tersebut.
  9. Siswa belajar dengan cara melakukan, dengan demikian berilah tugas yang tidak mengandung kekerasan, tugas sebaiknya berhubungan dengan kesalahan siswa. Misalnya siswa diminta membetulkan, membersihkan sesuatu yang pecah, dengan demikian siswa tidak akan mengurangi perbuatannya.

6 Comments

  1. Posted 4 Juni 2009 at 10:22 | Permalink

    semua bisa kita atur sedemikian rupa dgn beberapa cara dan pendekatan.. baik sosialisasi ke siswa maupun gurunya.. tapi semua itu akan kembali kepada pribadinya masing2.. bila siswa ga bisa diatur itu wajar karena mereka masih belum cukup mapan untuk berpikir logis dan jiwa muda mereka yang mendorong untuk berbuat begitu.. tapi bila guru yang perilakunya menyimpang.. maka itu jadi tanda tanya besar.. kenapa bisa begitu..

  2. Posted 4 Juni 2009 at 20:24 | Permalink

    aku sangat merasakan bahwa hal diatas berdampak sangat buruk pada kejiwaanku.. :P

  3. Posted 4 Juni 2009 at 20:37 | Permalink

    Sudah saatnya kekerasan hilang dlm dunia pendidikan

  4. Posted 9 September 2009 at 03:17 | Permalink

    wah baru tau ne… ga sengaja nemu blog sampean… horeee… guru sma ane ngeblog juga..
    masih kumisan to pak…. sukses deh pa’ hehe….

  5. Posted 9 Nopember 2009 at 10:23 | Permalink

    Jadi guru memang harus sabar …

  6. souri shimilikiti
    Posted 7 Juni 2010 at 14:00 | Permalink

    he he he Kekerasan kok mesti dikelola…

One Trackback

  1. [...] Oleh Eksan Wasesa [...]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*